in

Kisah viral Erwin, bocah kelas 2 SD yang bersekolah sambil berjualan siomay

Kisah viral Erwin, bocah kelas 2 SD yang bersekolah sambil berjualan siomay
Kisah viral Erwin, bocah kelas 2 SD yang bersekolah sambil berjualan siomay

Tugas seorang anak adalah belajar dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Kalau sudah besar, tentu giliran mereka gantian mengurus orang tuanya.

Namun seringkali tugas anak-anak yang harusnya belajar dan menikmati waktunya untuk bermain bersama teman sebagay justru beberapa ada yang harus bekerja untuk menafkahi keluarga.

Dan hal itulah yang dialami oleh bocah kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Muttaqin, Desa Cinta Nagara, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat bernama Erwin Utama.

Erwin kecil harus rela bersekolah sambil berjualan siomay demi menghidupi dirinya dan juga untuk membantu biaya sekolahnya.

Sesekali Erwin pun nampak berhenti sambil menghela nafas panjang, akibat beban berat gerobak yang dibawanya dari rumah yang berjarak sekitar 200 meter dengan halaman sekolahnya.

Erwin pun harus merelakan masa kecil yang indah dengan bermain bersama anak sebayanya sebab semua itu harus ditukar dengan beban penderitaan yang ia rasakan sejak dini.

Bahkan nggak jarang ledekan, cibiran bahkan sekedar senda gurau, kerap ia dapatkan saat berjualan siomay ke teman sejawatnya.

Bocah 9 tahun itu pun hanya berjualan di area sekitar sekolah sewaktu istirahat yang pembelinya sebagian besar siswa sekolah tersebut.

Menurut Erwin, ia terpaksa bersekolah sambil berjualan siomay milik tetangganya demi mendapatkan uang jajan dan untuk meringankan beban orang tuanya yang hanya bekerja sebagai petani.

Meski terbilang masih kecil, akan tetapi badannya sanggup membawa gerobak yang diperkirakan seberat tubunya sendiri.

Bagi Erwin, perjuangan itu sungguh mulia tanpa harus menambah beban orang tua. Bahkan selama jualan, ia tidak pernah tercatat bolos sekolah, akibat aktifitas berdagangnya itu.

Dengan sistem jualan berdasarkan presentase dari sang pemilik gerobak, ia pun mengaku hanya mendapatkan jatah keuntungan sebesar 30 persen, dari seluruh dagangan siomay yang berhasil ia jual.

Setiap harinya kadang ia mendapat uang Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu, yang digunakan untuk uang jajannya ke sekolah.

Kepala Sekolah MI Al Muttaqin, Isop Sopiah, mengaku bangga dengan perjuangan anak pasangan Imas dan Uyus Isnaeni ini. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa menghentikan kewajibannya untuk tetap belajar.

Awalnya ia mengaku terenyuh melihat perjuangan yang dilakukan oleh salah satu siswa didiknya. Beberapa kali ia juga meminta Erwin untuk berhenti berjualan, tapi tekad kuatnya meluluhkan seluruh rayuan yang datang.

View this post on Instagram

Langkah kecil kaki Erwin Utama (9) harus tertaih-tatih memikul beban berat setiap harinya. Beban yang mungkin saja tidak pantas untuk dipikul badan yang masih kecil itupun terpaksa memikul beban yang hampir setara dengan bobot tubuhnya bahkan lebih. . Erwin terpaksa memikul gerobak baso tahu dipundak kecilnya setiap hari sembari menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiah (MI) Al Muttaqin Desa Cinta Nagara Kecamatan Cisurupan ini. . “Iya setiap hari bawa ini (gerobak baso tahu) sambil sekolah,” ungkapnya, Jumat (3/5/2019). . Meski masih duduk di kelas dua SD, Erwin tidak malu membawa gerobak siomaynya ke sekolah.  Warga Sadang Legok Desa Cinta Nagara, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut ini sudah hampir setahun membawa gerobaknya ke sekolah untuk membantu meringankan pekerjaan orangtuanya yang bekerja diluar kota. . “Mau bantu meringankan beban orang tua,” ucapnya sambil melayani pembeli yang masih teman sebayanya itu. . Meski berjualan, Erwin mengaku tak pernah bolos sekolah. Ia berjualan pada saat jam istirahat. “Jualnya kalau istrahat saja, kalau ada pelajaran saya tetap di kelas belajar,” katanya. . Anak pasangan Imas dan Uyus Isnaeni ini hanya mendapatkan jatah 30 persen dari setiap penghasilan yang ia dapatkan dari gerobak siomay. Dikarenakan gerobak siomay yang ia bawa bukan miliknya sendiri. . “Kadang dapat Rp 5 ribu atau Rp 6 ribu, uangnya buat jajan,” ucapnya polos. . Rumah dan sekolahnya berjarak sekitar 200 meter, jarak tempuh dan beban yang ia pikul membuat ia sering kali berhenti di perjalanan. . “Kalau merasa cape ya berhenti dulu,” katanya. . Kepala Sekolah MI Al Muttaqin, Isop Sopiah mengatakan bukan tidak mau melarang Erwin untuk berjualan karena melihat tubuh kecilnya. Meski mengaku tidak tega, namun hal ini juga sebagai pembelajaran. . “Saya tidak pernah melarang Erwin untuk berjualan, tapi kalau waktunya belajar ya harus belajar, kalau istriahat baru bisa jualan,” katanya. . Artikel : Bandung Kita

A post shared by MAKASSAR INFO (@makassar_iinfo) on

Kisah Erwin yang baru kelas 2 MI dan harus bersekolah sambil berjualan siomay untuk biaya sekolahnya itu pun kemudian menjadi viral dan mendapat beragam komentar dari netizen.

fathimahkhairr, “Yang gini yang harus di kasih bantuan, salut bangettt dek 😭😭”

rifkymaulanaal, “permudah rezekinya kelak ya allah🙏”

istyqaa92, “Subhanallah😭, masihkah kita kurang bersyukur, semohga Allah selalu menjaga dan melindungimu dek, semoga rezekimu Di limpahkan😇”

BACA JUGA: Rayakan kelulusan dengan berjoget diiringi musik DJ, aksi siswa SMAN 2 Makale Tana Toraja ini viral

muhrizky02, “Astagafirullah luar biasa perjuangan anak ini ,semoga mereka sehat selalu aminn😇🙏 😭”

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *